Loading...

Usaha Pengelolaan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati


NSHE menyadari pentingnya perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati dan telah menanamkan nilai-nilai ini ke dalam kebijakan dan inisiatif-inisiatif perusahaan.

Untuk itu perusahaan telah membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan/Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL/RPL) dan memenuhi standard internasional (IFC Performance Standard) dengan melakukan studi Environmental, Social and Health Impact Assessment(ESHIA), serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sesuai dengan perundang-undangan negara Indonesia.

Pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan perusahaan mengacu pada Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan)yang telah disusun bersama dengan konsultan internasional yaitu Environmental Resources Management (ERM) sebagai arahan terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan.


Biodiversity Offset

Biodiversity offsetadalah kegiatan-kegiatan konservasi sumberdaya alam termasuk perbaikan habitat, peningkatan populasi, dan lain-lain. Saat ini, NSHE bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Utara sebagai pemegang otoritas manajemen Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dalam proses perancangan rencana kerjasama untuk mengembangkan program Biodiversity Offset.

Sebagai arahan terhadap pengelolaan lingkungan, perusahaan juga telah menyiapkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan)yang disusun bersama-sama perusahaan dan konsultan internasional yaitu Environmental Resources Management (ERM).

Untuk mempelajari lebih lanjut, unduh dokumen Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan) disini.

Jembatan Arboreal

Konektivitas habitat merupakan faktor penting dalam melestarikan satwa liar. Untuk menjaga konektivitas habitat hewan arboreal,NSHE telah membangun jembatan kanopi yang menghubungkan bagin hutan yang diidentifikasi sebagai perlintasan yang sering dilalui satwa liar. Ruang-ruang yang telah terhubung dengan jembatan arboreal saat ini alami terbagi secara alami oleh sungai Batang Toru atau jalan utama, atau oleh jalan proyek yang sifatnya sementara selebar 6-m.

Hasil pemantauan pada fungsi jembatan arboreal, menunjukkan bahwa fasilitas ini berfungsi dengan baik, dan telah digunakan oleh satwa liar untuk menyeberang jalan dan sungai.

Untuk hewan darat, sarana persilangan hewan, dipelihara dengan cara memfungsikan gorong-gorong sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan oleh reptil dan dipelihara di tempat-tempat tertentu, sehingga hewan tidak mengalami kesulitan melintas. Untuk lebih melindungi satwa liar dan jembatan arboreal, tanda-tanda peringatan telah dipasang di tempat-tempat ini.


Zero Tolerance Policy

Perusahaan menerapkan kebijakan “zero tolerance (tidak ada toleransi)” terhadap perburuan dan perdagangan tanaman liar dan hewan dimaksudkan agar karyawan tidak menyebabkan gangguan terhadap satwa liar untuk semua karyawan. Untuk mendukung kebijakan ini semua karyawan melalui pelatihan tentang aturan dan kebijakan, yang terkait dengan perlindungan dan penyelamatan satwa liar. NSHE juga telah memasang berbagai tanda peringatan untuk memberitahu karyawan / pejalan kaki akan adanya satwa liar yang dikenal di daerah-daerah tertentu serta pemberitahuan larangan berburu dan kegiatan lainnya.


Pemantauan Satwa Liar

Kegiatan pemantauan dimaksudkan untuk memantau keberadaan dan keamanan hewan liar, tindakan penyelamatan satwa liar jika diperlukan, memastikan kepatuhan karyawan terhadap kebijakan perusahaan, dll. Pemantauan satwa liar dilakukan oleh tim pemantauan, yang terdiri dari tim pemantau terdedikasi dari NSHE, Badan Konservasi Alam (BKSDA), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat.


Orang Utan


Pada tahun 2017, sekelompok ilmuwan menemukan spesies orangutan ketiga yang diketahui di dunia yaitu Orang Utan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis). Tidak sama seperti kerabat mereka yang berasal dari Borneo dan Sumatera (Pongo pygmeaus dan Pongo abelii), Orang Utan Tapanuli memiliki rambut yang lebih kusut, kepala yang lebih kecil, dan wajah yang lebih rata. Sementara Orang Utan Tapanuli jantan yang dominan (dominant male) memiliki kumis yang menonjol dan bantalan pipi yang besar yang dikenal sebagai flense (flanges) dan ditutupi rambut berbulu halus.

Orangutan Tapanuli adalah hewan endemik di hutan Batang Toru, dengan perkiraan populasi sekitar 800 individu. Habitat mereka tersebar di hutan Batang Toru yang luasnya 163.000 Ha, sebuah wilayah seluas London atau lebih luas dari Wilayah DKI Jakarta.

Menurut Lembaga Sipirok Lestari Indonesia, orang utan seringkali turun ke tanah, hal ini membuat mereka bukan hewan arboreal murni (strictly arboreal). Pengamatan lain menunjukkan bahwa Orangutan Tapanuli tidak terganggu oleh suara alat berat yang bekerja. Orang utan telah menunjukan tingkah laku yang tetap tenang di sekitar mereka saat beraktivitas, makan dan beristirahat.

Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa daerah yang menjadi lokasi kegiatan PLTA Batang Toru relatif tidak sering digunakan oleh orang utan sehingga tidak dikategorikan sebagai habitat utama mereka.

Usaha Kami

NSHE menyadari peran penting perusahaan untuk berkontribusi terhadap perlindungan Orangutan Tapanuli. Sejalan dengan komitmen kami dalam Biodiversity Offset keanekaragaman hayati, NSHE telah menginisiasi beberapa program yang berfokus pada Orang Utan Tapanuli sebagai upaya peningkatan kesejahteraan spesies endemik ini.

  • Survey dan Pemantauan
      • NSHE memiliki tim khusus yang terdiri dari ahli spesies orang utan terkenal yang memimpin inisiatif perusahaan untuk Orangutan Tapanuli. Saat ini tim kami sedang melakukan survei dan pemantauan Orangutan Tapanuli dalam habitatnya untuk merekam data dan memberi wawasan yang akan digunakan untuk pengembangan berbagai program Biodiversity Offset dan program khusus orang utan di masa depan.

    1. House of Pongo Tapanuli
      • NSHE juga telah mengalokasikan 32 Ha lahan di daerah Batu Satail untuk membangun "Rumah Pongo Tapanuli", sebuah stasiun penelitian dan Pusat Informasi Konservasi Ekosistem Batangtoru, yang berfokus pada penelitian Orang Utan Tapanuli untuk memastikan spesies ini hidup dan berkembang dengan baik di seluruh wilayah habitatnya. Rencana utama (Master plan) jangka panjang untuk Rumah Pongo Tapanuli tengah dipersiapkan oleh Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Dengan melakukan ini, perusahaan bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang keseluruhan ekosistem Batangtoru.

      Kajian CSERM UNAS:

      PLTA Run Of RiverBatangToru Tidak Memunahkan Orang Utan Tapanuli

      Menurut hasil investigasi CSERM UNAS, yang dilakukan oleh para ahli orang utan, dipimpin Dr. Jito Sugarjito, yang sudah bekerja mengenai orang utan selama 40 tahun, Didik Prasetyo PhD, yang sudah 22 tahun berpengalaman dengan orang utan, Yok Yok Hadiprakarsa ahli GIS yang sudah berpengalaman memetakan habitat orang utan, dan di benarkan oleh Dr. Ian Singleton dari Yayasan PanEco, bahwa PLTA ROR Batang Toru dampaknya minimal terhadap orang utan, dan tidak akan memunahkan orang utan tapanuli.

      Surey tersebut menemukan fakta-fakta mengenai pembangunan PLTA ROR Batang Toru sebagai berikut:

      • Habitat yang terdampak seluas 272,75 hektar, yang terdampak permanen 83,92 Ha dan akan diganti dari lokasi sekitar yang cocok sebagai habitat dan dikelola dan dilindungi . Sementara seluas 188,83 Ha akan direstorasi yang menurut Dr. Ian Singleton/PanEco dampak ini sudah minimal.
      • Sementara bendungan, jalan dan transmisi tidak memotong koridor antara antara populasi di SA Sibual-buali dengan populasi di blok Barat. Bahkan pembuatan akses jalan dengan lebar hanya 6 meter cukup aman bagi orang utan untuk turun dari pohon dan nyebrang, sudah sering ditemukan orang utan turun dan menyebrang jalan (Dr. Ian Singleton)
      • Hasil survey yang obyektif dan independent tersebut menunjukkan ada 6 individu orang utan yang menggunakan areal PT NSHE dan mereka bukan yang berada di Sibual-buali.
      • Sementara proyek pembangunan PLTA Batang Toru dinilai tidak akan mengganggu koridor yang ada . hasil investigasi CSERM menunjukkana ada banyak habitat orang utan yang dapat dijadikan tempat perlindungan yang cukup luas sementara konstruksi dibangun.Dr.Jito Sugarjito, mengatakan orang Utan memerlukan PAK (Pangan, Aman dan Kawin) untuk survive, selama itu bisa dijamin (dan dari hasil investigasi P dan K tidak terganggu dan terdapat dalam jumlah yang besar) dan terjamin keamanannya, mereka akan survive di areal PLTA ROR Batang Toru.Dengan demikian konstruksi dan peledakan dengan dinamit tidak akan menganggu orang utan sehingga mereka tidak akan lari ke kebun rakyat.

      PT NSHE sebagai operator PLTA ROR Batang Toru sangat peduli pada orang utan tapanuli dan akan berbuat semaksimal mungkin untuk menjaga dan menjamin keberlangsungan hidup mereka untuk jangka panjang. Kami sangat menghargai dan berterimakasih apabila kritik dan tuduhan-tuduhan juga disertai dengan data-data dan analisa yang obyektif sehingga memang bermanfaat bagi semua pihak.